Rabu, 25 April 2012

ilmu pemikiran islam


TASAWUF IBN AL-‘ARABI (WAHDAT AL-WUJUD)
DAN AL-JILLI (AL-INSAN AL-KAMIL)

A.       Pendahuluan
Tidak diragukan lagi bahwa tasawuf telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi kehidupan spiritual dan intelektual Islam. Pengaruh tasawuf tidak terbatas pada golongan elit keagamaan, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Tesawuf telah mempengaruhi sikap hidup moral dan tingkah laku masyarakat, tasawuf telah mempengaruhi kesadaran estetika, sastra, filsafat dan pandangan hidup.
Tasawuf dapat dibedakan kepada dua aliran, yaitu tasawuf sunni dan tasawuf falsafi. Tasawuf corak pertama memagari dirinya dengan al-Qur’an dan Sunnah serta menjauhi penyimpangan yang dapat menuju kepada kesesatan dan kekafiran. Sedangkan tasawuf corak kedua memasukkan kedalamnya ajaran dan unsur-unsur filsafat.[1]
Apabila dibandingkan konsep-konsep tasawuf sunni dan tasawuf falsafi. Kedua aliran tasawuf ini sama-sama mengakui ajarannya bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah serta sama-sama mengamalkan Islam secara konsekuensi. Perbedaan yang jelas diantara keduanya adalah terletak pada terciptanya komunikasi langsung antara sufi dengan Tuhan. Menurut tasawuf Sunni bahwa antara makhluk dan Khalik tetap ada jarak yang tak terjembatani sehingga tidak berpadu karena keduanya tidak seesensi, lain halnya dengan tasawuf falsafi dengan tegas mengatakan manusia seesensi denga Tuhan. Karena manusia berasal dan tercipta dari esensinya, oleh karena itu, keduanya dapat berpadu apabila kondisi itu telah tercipta. Untuk mengetahui ahli sufi yang membahas tentang tasawuf falsafi ini adalah salah satunya al-arabi dengan konsep wahdat al-wujud nya dan al-jilli dengan konsep insan kamil nya maka penulis akan menguraikan pada pembahasan berikutnya.
B.       AL-‘Arabi
1.         Biografi
Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad bin Muhyiddin al-Hitami al-Ta’i al-Andalusi.[2] Di Andalusi al-‘Arabi dikenal dengan nama Ibn al-’Arabi (tanpa alif lam). Disamping itu, al-‘Arabi biasa juga disebut dengan al-Qutb, al-Syaikh al-Akbar, atau al-Kibrit al-Ahmar.[3] Al-‘arabi lahir pada tanggal 17 Ramadhan 560 H/ 28 Juli 1163 M di Mercia dan meninggal pada tanggal 28 Rabiul Akhir 638 H/ 16 November 1240 M.[4]
Ibn al-’Arabi berasal dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuwan di Mercia, Andalusia Tenggara. Ketika Ibn al-’Arabi berumur delapan tahun, keluarganya pindah ke Sevilla, tempat dimana Ibn al-’Arabimu mulai menuntut ilmu dan belajar al-Qur’an, Hadits dan Fiqh bersama sejumlah murid pada seorang faqih terkenal di Andalusia, yang bernama Ibn Hazm al-Zahiri.
Setelah berumur 30 tahun mulailah Ibn al-’Arabi berkelana ke berbagai kawasan Andalusia dan kawasan Islam bagian barat. Di berbagai daerah ini, Ibn al-’Arabi belajar kepada beberapa orang sufi, diantaranya adalah Abu Madyan al-Gaus al-Talim Sari dan Yasmin Musyaniyah, keduanya banyak mempengaruhi ajaran Ibnu ‘Arabi dikabarkan ia pernah bertemu dengan Ibn Rusyd, seorang filosof muslim dan tabib istana dinasti Barbardari Alomohad, di Kardova.[5] Kemudian selama beberapa waktu ia bolak balik anatara Hijjaz, Yaman, Syiria, Irak dan Mesir. Akhirnya pada tahun 620 H Ibn al-’Arabi menetap di Hijjaz sampai akhir hayat.


2.      Karya-karya Ibn al-’Arabi
Ibnu ‘Arabi termasuk salah seorang penulis muslim yang produktif. Di dalam concise encyclopedia of Arabic Civilization disebutkan jumlah karya tulis Ibnu ‘Arabi mencapai 300 karya. Dan hanya 150 karya yang dijumpai. Dan hanya sebagian kecil yang hanya diterbitkan. Karya monumentalnya adalah al-Futuhat al-Makiyyah yang ditulis pada tahun 1201 M,[6] ketika ia melaksanakan ibadah haji dan Fusus al-Hikam yang kedua karya tersebut memuat ajaran tasawufnya. Kitab-kitabnya yang lain adalah Musyahadah al-Asrar, al-Misbah Fi al-Jami’i Buin al-Sihah Fi al-Hadits al-Jam Uwa al-Lujsu Asraru Ma’ni al-Tanzil Futuhat al-Madaniyah, al-Tadbiral Ilahiyyahdan al-Isra’ila Maqam al-Asra.[7]
Kemudian ada karya pendek dari Ibn al-’Arabi yang berkaitan dengan metafisika dan kosmologi yang patut disebutkan disini yaitu Insya’ al-Dawair, ‘Uqlat al-Mustawfiz, dan al-tadbirat al-illahiyah. Karya Ibn al-’Arabi yang tidak boleh dilupakan adalah Ruh al-Quds yang disusunnya di Mekkah. Melalui karya ini Ibn al-’Arabi mengkritik penyimpangan-penyimpangan dalam praktek sufisme dan mengungkapkan banyak informasi tentang para sufi yang mengajarnya dan yang ditemuinya di Andalusia.[8]
Selanjutnya Syajarat al-Kawn adalah karya Ibn al-’Arabi yang memaparkan doktrinya tentang pribadi Nabi Muhammad. Karya pendek Ibn al-’Arabi yaitu Ma’la Budda Minhu li al-Murid  yang ditulis di Mosul adalah jawaban terhadap pertanyaan tentang apa yang harus diimani dan apa yang harus dilakukan oleh pencari pada permulaan.


3.       Konsep Wahdat al-Wujud Ibn al-’Arabi
Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demi­kian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud.[9] Kata wahdah selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi pada bagian yang lebih kecil. Selain itu kata al-wahdah digunakan pula oleh para ahli filsafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak (lahir) dan yang batin, antara alam dan Allah, karena alam dari segi hakikatnya qadim dan berasal dari Tuhan.
Pengertian wahdatul wujud yang terakhir itulah yang se­lanjutnya digunakan para sufi, yaitu paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud.
Dengan demikian kata wujud terutama dan khusus yang digunakan oleh Ibn al-‘Arabi untuk menyebut wujud Tuhan. Ia mengatakan wujud satu-satunya adalah Tuhan, tidak ada wujud selain wujud-Nya. Ini berarti, apa pun selain Tuhan tidak mempunyai wujud.  Secara logis dapat diambil kesimpulan, kata wujud tidak dapat diberikan kepada segala sesuatu selain Tuhan, alam dan segala sesuatu yang ada didalamnya.[10]
Lebih lanjut dijelaskan bahwa paham ini mengatakan dalam paham wahdat al-wujud, nast yang ada dalam hulul yaitu lanut diubah menjadi khalq (makhluk) dan lahut diubah menjadi haqq (Tuhan). Haqq dan Khalq adalah dua bagian sesuatu. Aspek yang sebelah luar disebut Khalq dan yang sebelah dalam disebut Haqq. Kata-kata khalq dan haqq ini merupakan padanan kata al-'Arad (accident) dan al-Jauhar (substance) dan al-Zahir (lahir-luar-tampak), dan al-bathin (da­lam, tidak tampak).
Dalam hal ini persoalan yang akan dibahas adalah bagaimana hubungan antara al-Haqq dan al-Halq, antara Allah dan alam, antara sang pencipta dan ciptaan, antara Yang Esa dan yang banyak, antara al-wujud dan al-mawjudat, antara wajib al-wujud dan al-mumkinat.[11]
Dalam padangan Ibn al-‘Arabi, alam adalah penampakan dari al-Haqq dan dengan demikian segala sesuatu dan segala peristiwa di alam ini adalah penampakan dari al-Haqq. Karena itu baik Tuhan maupun alam tidak dapat dipahami kecuali sebagai kesatuan antara kontradiksi-kontradiksi seperti antara yang nampak (al-zahir) dan yang batin (al-batin), antara yang awal dan yang akhir, antara yang satu dengan yang banyak.
Ibn al-‘Arabi memandang, realitas adalah satu, tetapi mempunyai dua sifat yang berbeda yaitu sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan hadir dalam segala sesuatu yang ada di alam ini. Ini berbeda denga teori al-Hallaj yang mengatakan bahwa sifat Ketuhanan hanya hadir pada manusia, tidak pada makhluk-makhluk lain, dan sifat kemanusiaan hadir pada Tuhan. Jika dalam teori al-Hallaj masih terdapat dualisme (Tuhan dan manusia), maka dalam teori Ibn al-‘Arabi tidak terdapat dualitas. Dalam konteks ini jika dalam teori al-Hallaj persoalan yang ditekankan adalah hubungan Tuhan dan manusia, maka dalam teori Ibn al-‘Arabi persoalan yang diajukan adalah hubungan antara Tuhan dan Alam, antara al-Haqq dan al-khalaq.[12]
Dalam proses penciptaan alam Ibn al-‘Arabi menggunakan perumpamaan seperti cermin. Ibn al-‘Arabi memberikan hubungan timba balik dengan simbol ini dan mengatakan al-khalq adalah cermin bagi al-Haqq dan al-Haqq adalah cermin bagi al-khalq.
Perumpamaan bahwa al-khalq adalah cermin bagi al-Haqq mempunyai dua fungsi: pertama, untuk menjelaskan sebab penciptaan alam dan kedua, untuk menjelaskan bagaimana munculnya yang banyak dari Yang Satu. Tentang fungsi yang pertama, yaitu menjelaskan sebab penciptaan alam, dapat dikatakan bahwa al-Haqq mempunyai sifat senang “melihat diri-Nya” (al-tara’i). Agar dapat “melihat diriNya”, al-Haqq menciptakan al-khalq.
Tujuan Tuhan menciptakan alam bukan hanya untuk melihat diri-Nya, tetapi juga untuk memperlihatkan diri-Nya. Tuhan adalah sesuatu yang tersembunyi yang tidak dikenal, karena itu Dian ingin dikenal, maka Dia menciptakan makhluk dan memperkenalkan diri-Nya kepada mereka. Lalu mereka mengenal-Nya.
Tentang fungsi yang kedua, yaitu menjelaskan munculnya yang banyak dari Yang Satu dan hubungan anatara keduanya, dapat dikatakan bahwa “Yang Melihat” yaitu al-Haqq adalah satu, tetapi bentuk atau gambar-Nya banyak sebanyak cermin tempat bentuk atau gambar itu terlihat.[13] 
Dengan demikian tentang proses penciptaan alam, dapat dilihat dalam tulisannya fusus al-Hukam. Menurut Ibn al-‘Arabi, ada lima tingkatan tajalli atau tanazzul zat Tuhan yaitu:
a)    Tajalli zat Tuhan dalam bentuk-bentuk al-a’yan al-sabitah  yang  disebut dengan alam al-ma’ani
b)    Tanazzul zat Tuhan dari alam al-ma’ani  kepada realitas-realitas  rohaniah, yang disebut dengan ‘alam al-arwah
c)  Tanazzul zat Tuhan dalam rupa realitas-realitas al-Nasfiyah  yang disebut dengan ‘alam al-Nufus al-Natiqah
d)    Tanazzul zatTuhan dalam bentuk-bentuk jasad tanpa materi, yang disebut ‘alam al-misal
e)    Tanazzul zat Tuhan dalam bentuk jasad bermateri, yang disebut pula dengan alam al-ajsam al-madiyah, dan disebut pula ‘alam al-Hissi atau ‘alam al-Syahadah[14]

Melalui keterangan tersebut didapat suatu kesimpulan bahwa tahapan-tahapan kejadian dalam proses penciptaan alam menutur ajaran tasawuf Ibn al-‘Arabi adalah:
a)        Wujud Tuhan sebagai wujud mutlak, yaitu Zat yang mandiri tanpa disebabkan / berhajad wujudNya kepada sesuatu pun
b)        Wujud al-Haqiqah al-Muhammadiyah sebagai emanasi pertama dari wujud Tuhan, dan daripadanya melimpah wujud-wujud lainnya.
c)        Bentuk-bentuk al-a’yan al-sabitah (wujud-wujud yang ada pada ilmu Tuhan) yang disebut ‘Alam al-Ma’ani
d)       Realitas-realitas rohaniah (wujud-wujud rohani) yang disebut ‘Alam arwah
e)        Realitas-realitas nafsiyah (wujud-wujud jiwa) yang disebut ‘Alam al-Nufus al-Natiqah
f)         Wujud-wujud jasad tanpa materi yang disebut dengan ‘Alam al-misal
g)        Wujud-wujud jasad bermateri yang disebut dengan ‘Alam al-ajsam al-madiyah atau ‘Alam al-Syahadah

Dapat diakatakan secara tegas bahwa teori emanasi dalam proses penciptaan alam telah mengisi dan mendasari sistem pemikiran Ibn al-‘Arabi. Itulah sebabnya esensi dari alam semesta ini adalah Tuhan, sedang lahirnya berupa materi hayalah bayang-bayang, yang sebenarnya tidak ada. Ibn al-‘Arabi mengatakan, sesungguhnya orang-orang muqarrabin telah menetapkan bahwa tidak ada wujud yang sesungguhnya dalam alam ini, melainkan Allah. Dan manusia meskipun ada, sesungguhnya adanya adalah dengan Dia. Sesuatu yang tergantung wujudnya padaNya , sebenarnya sesuatu dihukum tidak ada. Jadi, adanya makhluk hanya bayang-bayang bagi yang punya bayang-bayang dan merupakan gambar dalam cermin dimana wujud di luar cermin  jualah yang sebenarnya ada. Oleh karena itu makhluk seluruhnya hanyalah bayang-bayang.
C.      Al-Jilli
1.       Biografi
Nama lengkapnya ialah ’Abd al-Karim ibn Ibrahim ibn ’Abd al-Karim ibn Khalifah ibn Ahmad ibn Mahmud Al-Jili. Ia mendapatkan gelar kehormatan ”syaikh” yang biasa dipakai di awal namanya. Selain itu, ia juga mendapat gelar ”Quthb al-Din” (kutub/poros agama),[15] suatu gelar tertinggi dalam hirarki sufi. Namanya dinisbatkan dengan Al-Jili karena ia berasal dari Jilan. Akan tetapi, Goldziher mengatakan, penisbatan itu bukan pada Jilan, tetapi pada nama sebuah desa di distrik Bagdad ”jil’.
Ia lahir pada awal Muharam (767 H/1365-6 M) di kota Bagdad, dengan alasan bahwa menurut pengakuannya sendiri ia adalah keturunan Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani (470-561 H), yakni turunan dari cucu perempuan Syeikh tersebut. Sedangkan ‘Abd al-Qadir al-Jilani berdomisili di Bagdad sejak tahun 478 H sampai akhir hayatnya, tahun 561 H. Dan diduga keturunannya juga berdomisili di Bagdad, termasuk kedua orangtua al-Jilli. Namun setelah ada penyerbuan militerstik bangsa Mongol ke Bagdad yang dipimpin Timur Lenk, keluarga al-Jilli berimigran ke kota Yaman (kota Zabid). Di kota inilah al-Jilli mendapatkan pendidikan yang memadai sejak dini. Dalam catatannya, ia menyebutkan bahwa pada tahun 779 H ia pernah mengikuti pelajaran dari Syeikh Syaraf al-Din Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti (806 H), dan salah satu teman seangkatan adalah Syihab al-Din Ahmad al-Rabbad (821).
Pada tahun 790 H ia berada di Kusyi, India untuk mendalami kesufiannya. Ketika berkunjung ke India ini, Al-Jili melihat tasawuf falsafi ibn Arabi dan tarekat-tarekat antara lain Syisytiyah (didirikan oleh Mu’in al-Din al-Shysyti, 623H di Asia Tengah), Suhrawardiyah (didirikan oleh Abu Najib al-Suhrawardi, 563 H, di Bagdad), Naqsyabandiyah (didirikan oleh Baha al-Din al-Naqsyaband, W.791 H.di Bukhara) berkembang dengan pesat. Sebelum sampai ke India, ia berhenti di Persia dan mempelajari bahasa Parsi. Di sanalah ia menulis karyanya Jannat al-Ma’arif wa Ghayat Murid wa al-Ma’arif.
Pada akhir tahun 799 H ia berkunjung ke Mekkah dalam rangka menunaikan ibadah haji, namun dalam kesempatan ini ia sempat pula melakukan tukar pikiran dengan orang disana. Hal ini menandakan bahwa kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan melebihi kecintaannya terhadap hal-hal lain. Empat tahun kemudian, yakni tahun 803 H Al-Jili berkunjung ke kota Kairo. Dan disana ia sempat belajar di Univeritas al-Azhar, dan bertemu banyak para teolog, filusuf, dan sufi. Di kota inilah ia menyelesaikan penulisan bukunya yang berjudul, Ghunyah Arbab al-Sama’ wa Kasyf al-Qina’ an Wujud al-Istima.[16]
Dan dalam tahun yang sama juga ia berkunjung ke kota Gazzah, Palestina, di kota ini ia menulis bukunya dengan judul, al-Kamalat al-Ilahiyah. Namun setelah kurang lebih dua tahun kemudian, ia kembali lagi ke kota Zabid, Yaman dan bertemu kembali dengan gurunya (al-Jabarti). Maka pada tahun 805 H ia kembali ke Zabit dan sempat bergaul dengan gurunya itu selama satu tahun, karena pada tahnu berikutnya gurunya meninggal.
Diketahui bahwa tahun kunjungannya ke Gazza merupakan tahun terakhir dari perjalanannya ke luar Zabit. Dari itu, diketahui pula bahwa sekembalinya dari Gazzah itu ia masih hidup selama lebih kurang 21 tahun dan masih tetap terus aktif menulis sampai akhir hayatnya.

2.      Karya-Karya Al-Jilli
Sebagaimana riwayat hidupnya, karya-karya Al-Jili pun tidak banyak diketahui secara pasti, sehingga tidak bisa memperkirakan jumlah yang tepat dari hasil karyanya itu. Iqbal mengatakan bahwa karya al-Jilli tidak banyak seperti Ibn al-’Arabi. Iqbal hanya menyebutkan tiga dari kitab-kitabnya, yaitu suatu ulasan atas karya Ibn al-’Arabi, al-futuhat al- makkiyah, suatu komentar atas basmalah, dan karyanya yang terkenal al-Insan al-Kamil.[17] Ada lagi penelitian yang lebih akurat ialah yang dilakukan oleh Haji Khalifah. Ia mencatat, bahwa Al-Jili telah menulis enam judul karya tulis, yaitu (1) Al-Insan Al-Kamil Fi Ma’rifat-I al-Awakhir Wa al-Awa’il, (2) Al-Durrah Al-‘Ayniyah Fi L-Syawahid Al-Ghaybiyah, (3) Al-Kahf Wa al-Raqim Fi Syarh Bi Ism-I al-Lah Al-Rahman Al-Rahim, (4) Lawami Al-Barq, (5) Maratib Al-Wujud,(6) Al-Namus Al-Aqdam.
Penelitian Haji Khalifah itu dilengkapi oleh Isma’il Pasya al-Baghdadi. Ia mencatat lima karya Al-Jilli selebihnya. Dan yang lebih banyak penemuan diantara dua peneliti sebelumnya mengenai karya-karya al-Jilli adalah Carl Brockelmann, ia mencatat sebanyak 29 (dua puluh sembilan) judul karya al-Jilli. Namun, karya-karya yang ingin dikemukakan disini hanya berasal dari penelitian pertama yang dilakukan oleh Haji Khalifah, yang menurut penulis masih mendekati originalitasnya, diantara enam karya al-Jilli adalah:
a)      Al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat-i al-Awakhir wa al-Awail, buku ini adalah bukunya yang paling poluler. Karya ini tersebar di Dar al-Kutub al-Mishriyah, Kairo, beberapa kali diterbitkan maktabah shabihy dan mushthafa al-Babi al-Halabi di Kairo, dan Dar al-Fikr di Beirut. Buku ini mengupas dengan mendalam konsep insan kamil (manusia sempurna) secara sistematis.
b)      Al-Durrah al-‘Ayiniyah fi al-Syawahid al-Ghaybiyah, buku ini merupakan antologi puisi yang mengandung 534 bait syair karya al-Jilli
c)      Al-Kahf wa al-Raqim fi Syarh bi Ism-i Allah al-Rahman al-Rahim, buku ini merupakan kajian mendalam mengenai kalimat Basmalah secara panjang lebar menurut tafsir sufi. Berbeda dengan kitab-kitab tafsir di luar tafsir sufi yang berupaya menjelaskan kata demi kata dan kalimat demi kalimat dari ayat-ayat al-Qur’an, di dalam karya ini menjelaskan ayat pertama surat al-Fatihah, huruf demi huruf, yang menurutnya merupakan lambang-lambang/ simbol-simbol yang mempunyai makna tersendiri.
d)     Lawami’ al-Barq
e)      Maratib al-Wujud, buku ini menjelaskan tentang tingkatan wujud dan disebut juga dengan judul Kitab Arba’in Maratib.
f)     Al-Namus al-Aqdam, buku ini terdiri dari 40 juz, masing-masing juz seakan-akan terlepas dari juz lainnya dan mempunyai judul tersendiri. Akan tetapi sangat disayangkan sebagian besar dari buku ini tidak ditemukan lagi.[18]

3.         Konsep Insan Kamil Al-Jilli
Insan kamil berasal dari bahasa arab, yaitu dari dua kata insan dan kamil. Secara harfiah, insan berarti manusia, dan kamil berarti yang sempurna. Dengan demikian, insan kamil berarti manusia yang sempurna.
Insan kamil artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofi ini pertama kali muncul dari gagasan tokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili (1365-1428), pengikutnya, gagasan ini dikembangkan menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis. Dan secara etimologi kata ‘Insan Kamil’ berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kalimat; al-insan dan al-kamil. Kata insan, dipandang berasal dari turunan beberapa kata. Misalnya saja uns, yang artinya cinta. Dan ada yang memandang berasal dari turunan kata nas, yang artinya pelupa, karena manusia sendiri secara historis berasal dari suatu lupa dan akan berakhir dengan lupa.[19]
Ada juga yang berpendapat bahwa itu berasal dari ‘ain san, yang artinya ‘seperti mata’. Namun dalam artian umum biasanya berarti manusia. Kata kedua, kamil, yang artinya adalah ‘sempurna’, yang menurut Murtadla Muthahhari kata ini sangat tepat sekali digunakan oleh al-Jilli, karena selain kata ini ada juga kata yang mirip artinya tetapi sangat berbeda maknanya, yaitu tamam (lengkap). Kekuatan kata kamil (sempurna), menurutnya, melebihi kata tamam (lengkap). Karena kamil menunjukan sesuatu yang mungkin saja lengkap, namun masih ada kelengkapan lain yang lebih tinggi satu atau beberapa tingkat, dan itu lah yang disebut kamil (sempurna).[20]
Al-Jili seperti ibn ’Arabi, memandang insan kamil sebagai wadah tajalli Tuhan yang paripurna. Pandangan demikian didasarkan pada asumsi, bahwa segenap wujud hanya mempunyai satu realitas. Realitas tunggal itu adalah wujud mutlak, yang bebas dari segenap pemikiran, hubungan, arah, dan waktu. Ia adalah esensi murni, tidak bernama, tidak bersifat, dan tidak mempunyai relasi dengan sesuatu. Di dalam kesendirian-Nya yang gaib itu esensi mutlak tidak dapat dipahami dan tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan-Nya, karena indera, pemikiran, akal, dan pengertian mempunyai kemampuan yang fana dan tidak pasti, hal yang tidak pasti akan menghasilkan ketidakpastian pula. Karena itu, tidak mungkin manusia yang serba terbatas akan dapat mengetahui zat mutlak itu secara pasti.
Kemudian, wujud mutlak itu ber-tajalli secara sempurna pada alam semesta yang serba ganda ini. Tajalli tersebut terjadi bersamaan penciptaan alam yang dilakukan oleh tuhan dengan kodrat-Nya dari tidak ada menjadi ada. Menurut Al-Jilli alam ini bukanlah diciptakan Tuhan dari bahan yang telah ada, tetapi diciptakan-Nya dari ketiadaan (creatio ex nihilo) di dalam ilmunya. Kemudian, wujud alam yang ada di dalam ilmu-Nya itu dimunculkan-Nya menjadi alam empiris.
Dengan terjadinya tajalli Tuhan pada alam semesta, tercerminlah kesempurnaan citra-Nya pada setiap bagian dari alam, namun zat-Nya tidaklah berbilang dengan berbilannya wadah tajalli tersebut, tetapi Esa dalam segenap wadah tajalli-Nya. Dengan demikian, setiap bagian dari alam ini mencerminkan citra ketuhanan, namun apa yang tampak dalam dunia nyata hanyalah bayangan dari esensi mutlak itu.
Menurut pandangan Al-Jilli dan juga ibn ’Arabi, Tuhan adalah transenden dan sekaligus imanen. Al-Jili mengumpamakan hubungan Tuhan dan alam laksana air dan es (air yang membeku). Tuhan al-Haqq, diumpamakan sebagai air. Dan alam diumpamakan sebagai es. Dalam menjelaskan perumpamaan antara ”es” dan ”air” ini, Yusuf Zaydan menyebutkan bahwa Al-Jilli melihat adanya dua bentuk wujud, yakni wujud haqqi dan wujud khalqi. Wujud khalqi hanya berupa wujud ”yang dipinjam” dari wujud haqqi. ”Es” sebagai perumpamaan wujud khalqi hanyalah wujud ”pinjaman”, sedangkan wujud yang hakiki ialah ”air”, sebagai tamsilan dari wujud haqqi. Jadi, pada dasarnya hanya ada satu wujud, yakni wujud haqqi, sedangkan wujud khalqi hanya berupa aspek lahir dari wujud haqqi. Oleh karena itu, di tempat lain, Al-Jilli menyebut haqqi dan khalqi, atau kulli dan juz’i sebagai aspek-aspek dari wujud yang satu.
Jadi, dari satu sisi, insan kamil merupakan wadah tajalli yang paripurna, sementara di sisi lain, ia merupakan miniatur dari segenap jagad raya, karena pada dirinya terproyeksi segenap realitas individual dari alam semesta, baik alam fisika maupun metafisika. Selain itu, insan kamil adalah kutub yang disadari oleh segenap alam wujud ini dari awal sampai akhirnya dan ia hanya satu, sejak permulaan wujud sampai akhirnya.
Kesempurnaan insan kamil itu tidak lain adalah karena ia merupakan identifikasi dari hakikat Muhammad. Hakikat Muhammad, yang disebut dalam istilah falsafah dengan logos, pada dasarnya merupakan arketipe kosmos. Makhluk memperoleh kesejahteraan pada hakikat ini dan mendapat rezeki dari wujudnya. Ia juga merupakan arketipe dari Bani Adam, yang semuanya secara potensial adalah insan kamil, meski hanya dikalangan para nabi dan wali saja potensi itu menjadi aktual.
Al-Jili merumuskan insan kamil ini dengan merujuk pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad (al-haqiqah al-Muhammad) yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW asebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya/roh) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini.[21]
Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai Nur Muhammad oleh kalangan sufi, disamping terdapat dalam diri Muhammad juga dipancarkan Allah SWT ke dalam diri Nabi Adam AS. Al-Jili dengan karya monumentalnya yang berjudul al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakir wa al-Awa’il (manusia sempurna dalam konsep pengetahuan tentang misteri yang pertama dan yang terakhir) mengawali pembicaraannya dengan mengidentifikasikan insan kamil dengan dua pengertian.[22]
Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkait dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan. Yang Mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang baik dan sempurna. Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya.
Kedua, insan kamil terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Dalam pengertian ini, nama esensial dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu keniscayaan yang inheren dalam esensi dirinya. Hal itu dinyatakan dalam ungkapan yang sering terdengar, yaitu Tuhan berfungsi sebagai cermin bagi manusia dan manusia menjadi cermin bagi Tuhan untuk melihat diri-Nya.
Bagi Al-Jili, manusia dapat mencapai jati diri yang sempurna melalui latihan rohani dan mendakian mistik, bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat. Latihan rohani ini diawali dengan manusia bermeditasi tentang nama dan sifat-sifat Tuhan, dan mulai mengambil bagian dalam sifat-sifat Illahi serta mendapat kekuasaan yang luar biasa.
Kalau Al-Hallaj memandang nur Muhammad itu qadim dan ibn ’Arabi memandangnya itu qodim dalam ilmu tuhan dan baru ketika ia menyatakan diri pada makhluk, maka Al-Jili memandangnya baru Nagi Al-Jili hanya ada satu wujud yang qadim, yaitu wujud Allah sebagai zat yang wajib (pasti, niscaya) ada. Wujud tuhan dipandang qadim karena Dia tidak di dahului oleh ketiadaan. Al-Jili menjelaskan, sekalipun wujud yang diciptakan itu sudah ada semenjak qidam didalam ilmu Tuhan, ia tetap dipandang baru dalam keberadaanya itu, karena ia ”disebabkan” oleh wujud lain yang secara esensialtelah lebih dulu ada, yakni wujud Tuhan.oleh karena itu, kata Al-Jili, a’yan tsabitah yang ada dalam ilmu Tuhan bukan qadim, tetapi baru.
Dan setiap manusia memiliki potensi untuk mendapatkan “hakikat muhammad” atau “nur muhammad” dari Tuhan, tetapi manusia yang mampu mengaktualisasikan hakikat muhammad itu sangat terbatas, dan manusia yang mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan itulah yang disebut dengan Insan Kamil. Aktualisasi “nur muhammad” dalam pandangan Al-Jili dan Ibn ‘Arabi tidak dilihat secara ontologis saja tetapi juga secara epistemologis dan itu bisa dicapai dengan dua jalan, jalan pertama disebut Tajjali dan jalan kedua disebut taraqqi. Dan tajjali adalah berkat ke-Rahmanan-Nya yang ia berikan kepada manusia yang ia kehendaki, sedangkan taraqqi adalah usaha dan ikhtiar manusia itu sendiri untuk mendapatkan status Insan Kamil.

4.       Proses Munculnya Insan Kamil
Seperti Ibn al-‘Arabi, al-Jili membawa teori tajalli dan taraqqi dalam proses munculnya insan kamil. Menurut al-jili, tajalli Ilahi yang berlangsung secara terus-menerus pada alam semesta terdiri atas lima martabat, di antaranya adalah:
Pertama, Uluhiyah, tahap ini adalah tingkat tertinggi dalam proses tajjali Tuhan, dimana uluhiyah merupakan esensi (quidity) zat primordial dan merupakan wujud primer yang menjadi sumber segala yang ada dan tidak ada. Nama yang digunakan dalam peringkat ini adalah Allah, karena dalam pandangan al-Jilli sendiri, sebutan Allah merupakan nama tertinggi bagi Tuhan di atas nama-Nya al-Ahad, yang digunakan oleh Ibn al-‘Arabi sebagai tingkat tajjali tertinggi Tuhan (Ahadiyah).
Kedua, Ahadiyah, tahap ini muncul dari tahap sebelumnya (uluhiyah), dimana tingkatan ini merupakan sebutan dari zat murni (al-dzat al-sadzi) yang tidak memiliki nama dan sifat, dan tahap ini tidak bisa dicapai oleh pengetahuan manusia karena tidak ada kalimat dan kata-kata yang dapat menggambarkan-Nya. Dan dalam tahap ini menurut al-Jilli mengalami tiga penurunan (tanazzul):
a)      Ahadiyah, Zat Mutlak menyadari ke-Esa-an diriNya
b)      Huwiyah, kesadaran Zat Mutlak terhadap ke-Esa-an-Nya yang gaib
c)      Aniyah, Zat Mutlak menyadari diri-Nya sebagai Kebenaran

Ketiga, Wahidiyah, dimana pada tahap ini zat Tuhan menampakan diri-Nya pada sifat dan asma (nama), tetapi sifat dan asma itu sendiri masih identik dengan zat Tuhan karena zat ini pun masih berupa potensi-potensi dan belum mampu mengaktual secara keseluruhan.
Keempat, Rahmaniyah, pada tahap ini Tuhan ber-tajjali pada realitas asma dan sifat, dan dengan kalimat “kun” (jadilah), muncullah realitas-realitas potensial yang terdapat dalam tahap wahidiyah tadi menjadi wujud yang aktual, yakni alam semesta. Tetapi aktualitas ini masih bersifat universal, karena bersamaan dengan proses penciptaan alam secara keseluruhan.
Kelima, Rububiyah, dalam tahap ini Tuhan ber-tajjali pada alam semesta yang sudah mengalami partikularisasi (terbagi-bagi) dan sudah beragam, khususnya pada diri manusia (sebagai makhluk yang terbatas) untuk memanifestasikan diri-Nya yang tidak terbatas itu dengan menunjukan citra-Nya dalam diri manusia, dan citra Tuhan yang paling utuh bisa kita temukan dalam diri seorang Insan Kamil. Adapun tajjali ini akan mengalami pantulan yang akan berbalik arah kearah semula (dari zat sampai perbuatan, kemudian berbalik dan memantul dari perbuatan menuju zat), pertama tajjali perbuatan (tajjali al-af’al), kedua tajjali nama-nama (tajjali al-asma), ketiga tajjali sifat-sifat (tajjali al-shifat), keempat tajjali zat (tajjali al-dzat).
Kemudian al-Jilli sendiri dengan kejeniusannya membagi taraqqi kepada tujuh tingkatan menuju Insan Kamil:
a)      Al-Islam, dimana pada tingakt ini seseorang harus memiliki identitas keislaman yang mana identitas itu termaktub dalam rukun Islam: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu
b)      Al-Iman, pada tingkat ini seseorang harus memiliki keyakinan yang teguh kepada Allah, Malaikat-Malaikat Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul Alllah, Hari Akhir, dan Qadar
c)      Al-Shaleh, pada tahap ini seseorang melaksanakan ibadah kepada Allah harus didasari oleh rasa takut (khawf) dan harap (raja’)
d)     Al-Ikhsan, dalam tahap ini seseorang harus menempuh tujuh maqam, yaitu: tobat, inabah (tobat dari kelalaian mengingat Tuhan), zuhud, tawakal, rela, dan ikhlas
e)      Al-Syahadah, pada tahap ini seseorang akan menyaksikan keindahan dan keagungan Tuhan yang sesungguhnnya
f)       Al-Shiddiqiyah, pada tahap ini bisa disebut juga tahap makrifat karena seseorang pada tahap ini akan mendapatkan cahaya kebenaran secara berangsur dari asma-Nya hingga zat-Nya, yaitu:
1)      ‘Ilm al-yaqin, pada tingkat ini seorang sufi disinari oleh asma Tuhan
2)      ‘Ayn al-yaqin, pada tingkat ini seorang sufi disinari oleh sifat Tuha
3)       Haqq al-yaqin,pada tingakat ini seorang sufi disinari oleh zat Tuhan
g)      al-Qurbah, pada tahap ini seseorang akan mendapatkan kedudukan di sisi Tuhan paling terdekat dengan-Nya, dan ada empat pendekatan kepada Allah, yaitu:
1)      Al-Khullah, adalah sebuah persahabatan dengan Tuhan, sehingga Tuhan dikenal secara intim. Dengan demikian sufi senantiasa berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya
2)      Al-Hubb, adalah sebuah percintaan antara sufi dan Tuhannya, sehingga yang satu merasakan apa yang dirasakan oleh yang lainnya
3)      Al-Khiram, adalah sebuah pencitraan Tuhan secara utuh terhadap seorang sufi, tetapi kesempurnaan Tuhan tidak tercapai oleh sufi secara keseluruhan, karena kesempurnaan-Nya tidak terbatas
4)      Al-Ubudiyah, adalah sebuah penghambaan seorang sufi terhadap Tuhannya, karena bagaimana pun ia tidak akan dapat menjadi Tuhan.[23]
5.         Kedudukan Insan Kamil
Seperti Ibn al-‘Arabi juga, al-jili memandang insan kamil berkedudukan sebagai khalifah Tuhan di bumi. Hal itu ada karena pada diri insan kamil terdapat kemampuan-kemampuan yang melebihi kemampuan-kemampuan manusia kebanyakan, baik dari segi kepribadian maupun pengetahuan. Kelebihan itu, tidak lain adalah karena pada diri insan kamil terealisasi segenap asma dan sifat-sifat Tuhan secara utuh. Sebagai contoh, al-jili menunjuk Nabi Daud A.S. Ia mempunyai moral dan pengetahuan yang tinggi, melebihi manusia lain. Apalagi pada diirnya termanifestasi sifat-sifat afal (sifat-sifat aktif) Tuhan melebihi sifat-sifat-Nya yang lain. Hal demikian adalah karena kitab zabur merupakan tajalli dari sifat-sifat afal.[24]
D.       Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan makalah tersebut maka dapat  ditarik kesimpulan bahwa konsep tasawuf Ibn al-‘Arabi adalah wahdat al-wujud yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang maujud di alam ini pada hakikatnya adalah satu yaitu wujud Tuhan. Sedangkan maujud yang lain hanyalah merupakan bayang-bayang dari wujud yang satu tersebut.
Kemudian tokoh tasawuf lainnya yang diuraikan dalam makalah ini adalah al-Jilli yang mengemukakan doktrin tentang insan kamil yang mengajarkan bahwa Tuhan dapat melihat dirinya dengan jelas dan hanya insan kamil pulalah yang dapat berkomunikasi dan mengenal Tuhan secara pasti dan benar. Insan kamil adalah hamba-hamba pilihan yang terdiri dari para Nabi dan para wali Allah, yaitu kaum sufi yang memiliki hati suci dan bersih.





KEPUSTAKAAN

Ali, Yunasril, Manusia Citra Illahi, Jakarta: Paramadina, 1997

Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002

Azhari Noer, Kautsar, Ibn Al-‘Arabi Wahdat al-Wujud Dalam Perdebata, Jakarta: Paramadina,1995

Aziz Dahlan, Abdul, Penilaian Teologis Atas Paham Wahdat al-Wujud, Padang: IAIN IB Press, 1999

Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984

Isa, Ahmad, Tokoh-Tokoh Sufi: Tauladan Kehidupan Yang Shaleh, Cet. II, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2001

Al-Karim al-Jilli, Abd, al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakhir wa al-Awail, Juz. 1, Beirut: Dar al-Fikr, 1975

M. Sholihin, Tasawuf Tematik Membedah Tema-tema Penting Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2003

................, Tokoh-Tokoh Muslim Lintas Agama, Bandung: Pustaka Setia, 2003

Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973

R. A Nicholson, Studies in Islamic Mysticsm, London: Cambridge University Press, 1921

Rahardjo, Dawam, Insan Kamil: Konsepsi Manusia Menurut Islam, Jakarta: Grafiti Pers, 2985

Sahib Khaja Khan, Khan, Cakrawala Tasawuf, Jakarta: Rajawali Press, 1993

Siregar, Rifay, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neosufisme, Jakarta: PT Grafindo Persada, 2002

Yusuf Musa, Muhammad, Falsafah al-Akhlak Fi al-Islam, Cairo: Muassisah al-Khaniji, 1963


[1] Rifay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neosufisme, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2002), h. 55-56
[2] Ahmad Isa, Tokoh-Tokoh Sufi: Tauladan Kehidupan Yang Shaleh, Cet. II, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2001), h. 203
[3] Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), h. 149
[4] Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 347-348
[5] M. Sholihin, Tokoh-Tokoh Muslim Lintas Agama, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), h.
[6] Muahammad Yusuf Musa, Falsafah al-Akhlak Fi al-Islam, (Cairo: Muassisah al-Khaniji, 1963), h. 232
[7] Kautsar Azhari Noer. Ibn Al-‘Arabi Wahdat al-Wujud Dalam Perdebata, (Jakarta: Paramadina,1995), h. 25-26
[8] Ibid., h. 27-28
[9] M. Sholihin, Tasawuf Tematik Membedah Tema-tema Penting Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), h. 154
[10] Kautsar Azhari Noer, Op. Cit., h. 43
[11] Abdul Aziz Dahlan, Penilaian Teologis Atas Paham Wahdat al-Wujud, (Padang: IAIN IB Press, 1999), h. 37
[12]Kautsar Azhari Noer, Op. Cit ., h. 49-50
[13] Ibid., h. 46-56
[14] Asmaran As, Op.Cit., h. 351
[15] R. A Nicholson, Studies in Islamic Mysticsm, (London: Cambridge University Press, 1921), h. 81
[16] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 56
[17] Abd al-Karim al-Jilli, al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakhir wa al-Awail, Juz 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1975),h. 8
[18] Yunasril Ali, Manusia Citra Illahi, (Jakarta: Paramadina, 1997), h. 39-48
[19] Dawam Rahardjo, Insan Kamil: Konsepsi Manusia Menurut Islam, (Jakarta: Grafiti Pers, 2985), h. 109
[20] Khan Sahib Khaja Khan, Cakrawala Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Press, 1993), h. 80
[21] Yunasril Ali, Op. Cit., h. 121
[22] Hamka, Op. Cit., h. 111
[23] Yunasril Ali, Op. Cit., h. 128-146
[24] Al-Jilli membagi sifat-sifat Allah atas sifat-sifat zat dan sifat-sifat af’al. Sifat-sifat zat ialah sifat-sifat esensial, yang mengambil posisi sebagai ‘ayn zat, sedangkan sifat-sifat af’al adalah sifat-sifat aktif yang menjadi potensi dari af’al Allah. Taurat merupakan tajalli Zabur tajalli sifat-sifat af’alnya, Injil tajalli sifatzatNya, dan al-Qur’an tajalli sifat-sifat dan asmaNya secara keseluruhan.

0 komentar:

Posting Komentar